Berita Parlemen

Annisa Mahesa Edukasi Gen Z soal Investasi agar Tak Terjebak FOMO

WhatsApp Image 2026 09 09 at 19.22.39

KOTA SERANG, FraksiGerindra.id — Anggota Komisi XI DPR RI, Annisa Mahesa mengingatkan generasi muda agar tidak mengambil keputusan investasi hanya karena mengikuti tren atau takut tertinggal. Menurutnya, semakin mudahnya akses terhadap produk dan informasi investasi melalui platform digital perlu diimbangi dengan kemampuan memilah informasi dan memahami risiko.

Hal tersebut disampaikan Annisa dalam kegiatan edukasi keuangan bagi mahasiswa bertajuk “Lite-It! (Literasi Keuangan Indonesia Terdepan)” yang digelar di Auditorium UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten pada 8 September 2026. Kegiatan tersebut turut dihadiri Gubernur Banten Andra Soni serta Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK Dicky Kartikoyono.

Annisa menilai fenomena Fear of Missing Out (FOMO) menjadi salah satu tantangan yang semakin relevan di kalangan investor muda. Ia mengingatkan mahasiswa agar konten viral maupun rekomendasi yang beredar di media sosial tidak dijadikan satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan keuangan.

Menurut legislator dari Daerah Pemilihan Banten II itu, investasi sebaiknya dilakukan setelah fondasi keuangan pribadi berada dalam kondisi sehat. Hal tersebut mencakup ketersediaan dana darurat, penyelesaian utang konsumtif, serta pemahaman mengenai tujuan, kemampuan finansial, dan toleransi risiko masing-masing.

“Jangan sampai kita kenal produknya dulu, tetapi belum kenal diri sendiri. Sebelum membeli, kita harus tahu uang ini untuk apa, kapan akan digunakan, dan seberapa besar risiko yang sanggup kita terima,” ujar Annisa.

Ia juga mendorong mahasiswa menerapkan prinsip 2L, yakni legal dan logis, sebelum memilih produk investasi. Selain memastikan produk maupun pihak yang menawarkan investasi memiliki izin, calon investor juga perlu menilai apakah imbal hasil yang ditawarkan masuk akal dibandingkan dengan tingkat risikonya.

Untuk mencegah keputusan impulsif akibat FOMO, Annisa menyarankan calon investor memberi jeda setidaknya 24 jam setelah menemukan rekomendasi investasi yang sedang ramai dibicarakan.

Menurutnya, terdapat tiga pertanyaan yang perlu diajukan sebelum mengambil keputusan, yakni apa risiko dari produk tersebut, siapa yang memperoleh keuntungan jika seseorang ikut berinvestasi, serta apakah pihak yang memberikan rekomendasi memiliki kewenangan atau izin sebagai penasihat investasi.

“Kalau semua orang membeli sesuatu, itu bukan berarti kita juga harus membeli. Kita perlu berhenti sebentar dan bertanya: saya membeli karena memang paham produknya atau karena takut ketinggalan?” katanya.

Annisa turut mengingatkan agar grup Telegram, WhatsApp, maupun komunitas digital tidak menjadi satu-satunya sumber analisis. Ketergantungan pada rekomendasi kelompok, menurutnya, dapat memicu perilaku herding, yakni kecenderungan mengikuti keputusan mayoritas tanpa melakukan analisis secara mandiri.

Ia berharap edukasi keuangan bagi mahasiswa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan karakter Gen Z, seperti micro-learning, kompetisi, dan program sertifikasi.

Selain mengenalkan instrumen investasi, literasi keuangan juga perlu membekali generasi muda untuk mengenali berbagai bias perilaku, seperti FOMO, herding, overconfidence, dan loss aversion. Pemahaman terhadap kanal informasi serta pengaduan resmi OJK juga dinilai perlu diperkuat.

“Anak muda sekarang punya akses informasi yang luar biasa besar. Tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana mendapatkan informasi, tetapi bagaimana memilah informasi dan mengambil keputusan dengan kepala dingin,” tutur Annisa.

Melalui kegiatan Lite-It!, Annisa berharap mahasiswa tidak hanya mengenal berbagai pilihan investasi, tetapi juga membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak dini.

Menurutnya, kecerdasan dalam berinvestasi tidak ditentukan oleh seberapa cepat seseorang mengikuti tren, melainkan oleh kemampuan memahami tujuan, karakter produk, serta risiko dari setiap keputusan keuangan.

“Investasi itu bukan perlombaan siapa yang paling cepat ikut tren. Yang penting kita tahu apa yang kita lakukan dan siap dengan risikonya. Jangan sampai karena takut ketinggalan, justru kita kehilangan uang yang sudah susah payah kita kumpulkan,” tutup Annisa.

Show Comments (0)
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *