MAKKAH, FraksiGerindra.id — Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI 2026 menyoroti pentingnya peningkatan kenyamanan transportasi jemaah pada fase puncak ibadah haji, khususnya dalam proses pemberangkatan menuju Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Meski secara umum pergerakan jemaah berjalan lancar, kepadatan armada bus dinilai masih menjadi catatan evaluasi dalam penyelenggaraan haji tahun ini.
Hal tersebut disampaikan Anggota Timwas Haji DPR RI 2026, Danang Wicaksana Sulistya, saat memantau langsung keberangkatan jemaah Indonesia dari Hotel 502 Safwat Alshuruq, Jalan Sektor 5 Raudhah, Makkah, Jumat (22/5/2026), bertepatan dengan dimulainya pergerakan jemaah menuju Arafah pada 8 Zulhijah.
Menurut Danang, pelaksanaan pemberangkatan jemaah di sektor lima sejauh ini berlangsung cukup baik meski arus kendaraan menuju Armuzna mengalami kepadatan tinggi akibat mobilitas jutaan jemaah dari berbagai negara yang bergerak pada waktu bersamaan.
“Alhamdulillah, di tanggal 8 Zulhijah ini jemaah sektor lima sudah mulai diberangkatkan menjadi tiga gelombang, dan sekarang termasuk gelombang kedua. Kalau melihat dari bus yang ada, alhamdulillah lancar, walaupun banyak informasi ada bus yang masih tertahan di jalan,” kata Danang.
Ia menjelaskan bahwa kemacetan pada fase Armuzna merupakan tantangan yang hampir selalu terjadi setiap musim haji. Pergerakan jutaan jemaah menuju lokasi yang sama dalam waktu berdekatan membuat arus kendaraan melambat dan menyebabkan antrean panjang di sejumlah jalur utama menuju Arafah.
Di tengah kondisi tersebut, Timwas DPR RI juga menemukan adanya kepadatan di dalam armada pengangkut jemaah. Sejumlah bus terlihat terisi penuh hingga sebagian jemaah harus berdiri selama perjalanan.
“Kalau saya lihat, busnya memakai formasi kursi tiga-dua, sehingga memang penuh sesak dan seperti dipaksakan. Banyak yang masih berdiri. Ke depan kalau bisa standar busnya dibuat lebih nyaman lagi,” ujarnya.
Menurut Danang, aspek kenyamanan transportasi perlu menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan kondisi fisik jemaah sebelum menjalani rangkaian ibadah puncak yang membutuhkan stamina tinggi. Ia menilai evaluasi terhadap kapasitas dan standar armada penting dilakukan agar kualitas layanan haji terus meningkat dari tahun ke tahun.
Namun demikian, Danang memahami tingginya antusiasme jemaah untuk segera tiba di Arafah turut memengaruhi kepadatan di dalam bus. Banyak jemaah memilih tetap bersama rombongan masing-masing agar tidak terpisah selama perjalanan menuju Armuzna.
“Jemaah memang ingin cepat menuju Arafah dan tetap bersama rombongannya, jadi walaupun bus sudah padat mereka tetap masuk,” tambahnya.
Ia menilai situasi tersebut mencerminkan kompleksitas operasional haji, terutama dalam mengatur mobilitas jutaan jemaah dunia dalam waktu yang sangat terbatas. Karena itu, koordinasi antara petugas haji Indonesia dan otoritas Arab Saudi dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran layanan selama fase Armuzna.
“Di Armuzna ini kita mengikuti segala peraturan dari pemerintah Saudi Arabia, sehingga perlu integrasi yang baik antara PPIH dan pemerintah,” katanya.
Danang juga mengimbau seluruh jemaah Indonesia untuk mematuhi arahan petugas, mulai dari ketua regu, ketua rombongan, ketua kloter, hingga petugas haji Indonesia di lapangan. Menurutnya, kedisiplinan jemaah sangat menentukan kelancaran pelaksanaan ibadah pada masa puncak haji.
“Kami berharap jemaah mengikuti segala prosedur dengan kondisi apa pun, sehingga semuanya bisa nyaman, selamat, dan sukses menjalankan ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina,” tuturnya.
Ia berharap seluruh rangkaian puncak ibadah haji tahun ini dapat berlangsung aman, tertib, dan lancar, sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan transportasi jemaah pada musim haji mendatang.





