Berita Parlemen

Sosialisasi Pemilihan Berkelanjutan, Esthon Foenay Tegaskan Pentingnya Demokrasi Berkualitas

WhatsApp Image 2026 10 27 at 19.27.43

KUPANG, FraksiGerindra.id — Anggota Komisi II DPR RI Sekaligus Ketua DPD Partai Gerindra Nusa Tenggara Timur (NTT), Ir. Esthon L. Foenay, M.Si., mengajak generasi muda menjadi pemilih cerdas dengan memahami visi dan misi, identitas, serta integritas calon pemimpin sebelum menentukan pilihan dalam pemilihan umum.

Hal tersebut disampaikan Esthon saat menjadi pemateri dalam kegiatan Sosialisasi Pendidikan Pemilih Tahun 2026 yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi NTT di Hotel Harper, Kota Kupang, Senin (26/10/2026).

Esthon yang juga merupakan anggota DPR RI menekankan pentingnya pendidikan pemilih berkelanjutan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menggunakan hak politik secara bertanggung jawab. Menurutnya, kualitas demokrasi tidak hanya bergantung pada penyelenggara pemilu, tetapi juga pada pemahaman masyarakat dalam menentukan pilihan.

Ia menjelaskan bahwa hak memilih merupakan wujud kedaulatan rakyat yang perlu digunakan secara bijaksana. Karena itu, masyarakat, khususnya pemilih pemula dan generasi milenial, perlu memahami hak, kewajiban, serta tanggung jawabnya dalam proses demokrasi.

Dorong Partisipasi Pemilih dan Tertib Administrasi Kependudukan

Dalam pemaparannya, Esthon turut menyoroti pentingnya peningkatan partisipasi masyarakat dalam pemilu. Ia mengingatkan bahwa masih terdapat warga yang belum menggunakan hak pilihnya karena berbagai kendala.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah administrasi kependudukan, termasuk pemilih pemula yang belum memiliki KTP elektronik. Menurutnya, persoalan tersebut perlu mendapat perhatian agar masyarakat yang memenuhi persyaratan dapat menggunakan hak pilih sesuai ketentuan.

Esthon juga mengingatkan bahwa masyarakat memiliki hak untuk memilih presiden dan wakil presiden, kepala daerah, serta anggota lembaga legislatif, termasuk DPR dan DPD, sesuai dengan jenis pemilihan yang diselenggarakan.

Oleh karena itu, pendidikan pemilih dinilai penting agar masyarakat tidak hanya berpartisipasi dalam pemungutan suara, tetapi juga memahami calon dan program yang menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan.

Esthon Ingatkan Bahaya Politik Uang, Isu SARA, dan Hoaks

Esthon secara khusus menekankan pentingnya membangun kesadaran masyarakat agar tidak mudah terpengaruh praktik politik uang, isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), maupun penyebaran informasi bohong atau hoaks.

Menurutnya, politik uang dapat merusak kualitas demokrasi karena pilihan masyarakat berpotensi dipengaruhi imbalan sesaat, bukan berdasarkan kapasitas, integritas, dan program kerja calon pemimpin.

“Pemilih cerdas harus mengenal visi dan misi calon pemimpin, identitas, serta integritasnya. Jangan sampai pilihan kita ditentukan oleh politik uang, isu SARA, dan hoaks,” demikian pesan Esthon dalam pemaparannya.

Ia mengingatkan bahwa pemilih pemula dan generasi milenial perlu memiliki kemampuan untuk memilah informasi politik secara kritis, terutama di tengah derasnya arus informasi melalui media sosial.

Esthon menilai, rekam jejak, visi dan misi, serta program kerja calon pemimpin harus menjadi bahan pertimbangan masyarakat. Ia juga menegaskan bahwa praktik politik uang tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang wajar dalam penyelenggaraan demokrasi.

Karena itu, pendidikan politik perlu dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga kebebasan dan tanggung jawab dalam menggunakan hak pilih.

Tekankan Persaudaraan di Tengah Perbedaan Politik

Kegiatan sosialisasi tersebut juga menghadirkan Ana Juana, jurnalis perempuan senior di Kota Kupang, sebagai pemateri. Kehadiran keduanya menjadi bagian dari upaya KPU Provinsi NTT memberikan pemahaman mengenai hak politik, partisipasi masyarakat, serta pentingnya menjaga kualitas demokrasi.

Dalam kesempatan tersebut, Esthon turut mengingatkan bahwa perbedaan pilihan politik tidak boleh menjadi penyebab perpecahan di tengah masyarakat.

Dengan gaya penyampaian yang santai dan diselingi humor, politikus senior NTT itu menekankan bahwa persaingan politik merupakan bagian dari proses demokrasi, tetapi hubungan persaudaraan harus tetap dijaga.

“Dalam politik kita berkompetisi, tetapi dalam Tuhan dan masyarakat kita basudara,” menjadi pesan penutup Esthon yang menekankan pentingnya persaudaraan di tengah perbedaan pilihan politik.

Melalui Sosialisasi Pendidikan Pemilih Tahun 2026, KPU Provinsi NTT berupaya meningkatkan pemahaman pemilih pemula dan generasi milenial mengenai hak suara serta tanggung jawab mereka dalam kehidupan demokrasi.

Kegiatan tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan hak pilih secara sadar dan bertanggung jawab, menolak politik uang, serta tidak mudah terpengaruh informasi menyesatkan maupun isu yang berpotensi memecah belah persatuan.

Show Comments (0)
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *