YOGYAKARTA, FraksiGerindra.id — Inovasi pengelolaan limbah rumah tangga menjadi energi alternatif kembali mendapat perhatian Komisi XII DPR RI. Minyak jelantah yang dikumpulkan masyarakat, khususnya kelompok ibu-ibu PKK di Semarang dan Daerah Istimewa Yogyakarta, kini diolah di Kilang Cilacap menjadi bahan bakar pesawat atau avtur sebagai bagian dari upaya pemanfaatan limbah sekaligus penguatan ketahanan energi nasional.
Anggota Komisi XII DPR RI, Rokhmat Ardiyan, menilai program tersebut sebagai terobosan positif karena tidak hanya berdampak pada pengurangan limbah rumah tangga, tetapi juga membuka nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
“Tadi Bapak GM MOR IV menyampaikan bahwa di Semarang, di MOR IV Semarang, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ada ibu-ibu dari PKK yang mengumpulkan minyak jelantah ini yang diolah di Kilang Cilacap untuk dijadikan avtur,” ujar Rokhmat Ardiyan usai mengikuti Kunjungan Kerja Masa Reses Komisi XII DPR RI ke Yogyakarta, DIY, Kamis (23/4/2026).
Rokhmat menegaskan, minyak jelantah yang selama ini dipandang sebagai limbah berbahaya kini justru dapat diolah menjadi energi baru yang memiliki manfaat strategis.
“Ini adalah terobosan yang sangat positif, di mana minyak jelantah atau minyak sampah yang bisa menjadi limbah berbahaya, kini diubah menjadi avtur,” jelasnya.
Menurut Rokhmat, keterlibatan masyarakat, khususnya ibu-ibu PKK, menjadi elemen penting dalam membangun rantai pasok ekonomi sirkular dari level rumah tangga. Selain membantu mengurangi limbah, pola ini juga dinilai berpotensi menghadirkan sumber pendapatan baru di tingkat lokal.
Ia menambahkan, sinergi pengelolaan limbah menjadi energi tersebut perlu diikuti dengan peningkatan kinerja sektor energi nasional secara lebih luas. Karena itu, ia mendorong Pertamina untuk terus memperkuat ketersediaan stok BBM dan LPG sebagai fondasi ketahanan energi Indonesia.
“Harapannya Pertamina meningkatkan kinerja, meningkatkan stok BBM dan LPG, sehingga bisa terwujud ketahanan energi, swasembada energi, dan kemandirian energi,” sebutnya.
Program pengolahan minyak jelantah menjadi avtur ini dinilai menjadi contoh konkret sinergi antara masyarakat, BUMN, dan pemerintah dalam mendorong transisi energi berkelanjutan, sekaligus memperkuat model ekonomi berbasis kerakyatan.





