JAKARTA, Fraksigerindra.id — Tak semua orang diberi panggilan. Tak setiap jiwa dipilih untuk menjejakkan langkah di Tanah Suci. Sebab haji, rukun Islam kelima, bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan hati dan jiwa—menuju titik balik seorang hamba.
Hal inilah yang dirasakan oleh Alimudin Kolatlena, Anggota Komisi VIII DPR RI dari Daerah Pemilihan Maluku. Di tengah kepadatan prosesi ibadah haji tahun ini, ia menyempatkan diri merenungi makna haji dalam hidupnya. Bagi Alimudin, haji adalah anugerah yang tak semua umat Islam dapat rasakan. Ia mengibaratkannya sebagai “panggilan” yang datang hanya bagi mereka yang dikehendaki-Nya.
“Haji itu ibadah, seperti syahadat, salat, zakat, dan puasa. Tapi ia hadir dalam nuansa yang sangat berbeda,” ungkap politisi Fraksi Partai Gerindra itu dengan mata yang tampak berkaca-kaca.
Bagi Alimudin, ini adalah kali pertama ia menginjakkan kaki di Tanah Suci. Ia menggambarkan suasana spiritual yang menggetarkan hati—sebuah pengalaman yang diyakininya akan menjadi titik balik dalam kehidupannya sebagai seorang Muslim.
“Ketika sampai di tanah tempat para Nabi dan Rasul berjuang, hati ini bergetar. Kita sadar betapa kecilnya diri kita. Betapa banyak yang harus kita benahi dalam hidup ini,” tuturnya lirih.
Ia mengaku bahwa selama menjalankan rangkaian ibadah haji, dirinya merasa seperti sedang dimurnikan kembali. Setiap langkah di Mina, setiap detik di Arafah, dan setiap doa di Multazam, menurutnya menjadi detoks jiwa dari keangkuhan dan kepalsuan dunia.
“Di Tanah Suci saya melihat semua dosa saya secara jelas dengan ihram yang saya kenakan. Sungguh Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Meski saya seorang yang penuh dosa, Allah tak pernah henti alirkan nikmat-Nya pada saya. Semoga saya tidak berlama-lama lagi dalam kedzaliman. Mendzalimi diri saya maupun orang lain.” ungkap Alimudin.
Dalam doa-doanya, Alimudin tak hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia menyisipkan harapan bagi seluruh umat Muslim di Indonesia dan dunia. Ia berharap agar lebih banyak jiwa yang mendapat panggilan suci untuk merasakan pengalaman spiritual yang mendalam ini.
“Doa kita bagi orang-orang yang kita cintai, bagi seluruh Muslim, agar bisa merasakan indahnya ibadah haji. Agar mereka juga mengalami perubahan batin seperti yang saya rasakan,” tuturnya.
Tak hanya itu, Alimudin juga menyampaikan harapan agar pengalaman haji tidak berhenti saat masih berada di Tanah Suci, tetapi terus mengalir dalam sikap dan tindakan sehari-hari sepulang ke tanah air.
“Cukuplah sekali dalam hidup kita menunaikan haji, tapi biarlah perubahan itu terasa seumur hidup. Sebab haji bukan sekadar status, tapi panggilan jiwa untuk menjadi manusia yang lebih lurus, lebih lembut, dan lebih taat,” pungkasnya.





