Berita Parlemen

Endang Thohari Dorong Hilirisasi Pertanian Lewat Bimtek untuk Petani dan Generasi Muda di Bogor

WhatsApp Image 2026 02 09 at 11.22.13

BOGOR, FraksiGerindra.id — Anggota Komisi IV DPR RI, Endang Setyawati Thohari, menggelar kegiatan bimbingan teknis (Bimtek) bagi pelaku sektor pertanian di Kota Bogor, Minggu (8/2/2026). Kegiatan yang berlangsung di Hotel Agria tersebut diikuti oleh anggota Kelompok Wanita Tani (KWT), pemuda tani, serta generasi muda dengan tujuan meningkatkan kapasitas dan daya saing usaha pertanian agar mampu naik kelas.

Bimtek kali ini mengusung tema Inovasi dan Hilirisasi Produk Pertanian oleh Para Petani dan Penyuluh Pertanian. Dalam keterangannya, Endang Setyawati Thohari menyampaikan bahwa kegiatan tersebut membawa misi strategis untuk mentransformasi wajah pertanian di Kota Bogor agar lebih bernilai tambah dan berkelanjutan.

Melalui Bimtek ini, ia mendorong KWT dan generasi muda agar tidak berhenti pada aktivitas budidaya semata, melainkan mampu menguasai rantai ekonomi dari hulu hingga hilir.

“Kita punya potensi luar biasa. Bogor itu identik dengan talas, ubi kayu, dan boled. Jangan lagi hanya dijual mentah dengan harga murah saat panen raya. Harus diolah! Talas jadi brownies, singkong jadi mi instan lokal. Itu nilainya berkali-kali lipat,” katanya.

Endang menegaskan bahwa hilirisasi pertanian bukan sekadar mengikuti tren, melainkan menjadi instrumen penting dalam menjaga kedaulatan pangan nasional, termasuk untuk mengurangi ketergantungan pada impor gandum.

Ia juga menargetkan agar produk olahan hasil kreativitas KWT dan pemuda tani ke depan dapat terserap dalam program strategis pemerintah, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Badan Gizi Nasional.

“Hasil tani kita harus masuk ke piring anak-anak kita untuk cegah stunting. Lewat Koperasi Desa Merah Putih yang sedang kita kembangkan, kita ingin uangnya berputar di desa, bukan lari ke kota,” tambahnya.

Di sisi lain, Endang Setyawati Thohari memberikan catatan kritis terhadap tata kelola wilayah di Bogor, khususnya terkait masifnya alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan permukiman sejak dekade 1980-an. Menurutnya, diperlukan strategi besar yang konsisten agar keberlanjutan lahan pertanian tetap terjaga.

“Harus ada Grand Strategy yang konsisten. Jangan sampai ganti Walikota, ganti pula fungsi lahannya. Lahan pertanian adalah nyawa kedaulatan kita,” tegasnya.

Apresiasi terhadap kegiatan tersebut disampaikan Pemerintah Kota Bogor melalui Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Hanafi. Ia menilai keterbatasan lahan di Kota Bogor menuntut petani untuk lebih inovatif dalam menciptakan nilai tambah produk pertanian.

“Kita ingin produk KWT ini masuk ke hotel-hotel dan pusat oleh-oleh. Pemkot akan dorong dari sisi kelembagaan melalui koperasi agar mereka siap menjadi pemasok bahan baku berkualitas untuk program Makan Bergizi Gratis,” ujar Hanafi.

Ia juga mengingatkan agar pengetahuan yang diperoleh dalam Bimtek tidak berhenti pada tataran teori semata.

“Jangan berhenti di ruangan ini. Praktikkan, lihat pasar, dan terus konsisten. Dinas Pertanian akan terus melakukan pendampingan agar kemandirian pangan di Kota Bogor benar-benar terwujud,” pungkasnya.

Show Comments (0)
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *