LAUT UTARA JAWA, FraksiGerindra.id — Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade mengapresiasi kinerja Pertamina Hulu Energi Offshore Northwest Java (PHE ONWJ) dalam mempertahankan produktivitas sekaligus keberlanjutan pengelolaan sumur minyak tua di wilayah kerja perusahaan.
Apresiasi tersebut disampaikan Andre setelah memimpin Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI DPR RI untuk meninjau langsung kondisi dan kinerja salah satu sumur minyak yang telah beroperasi sejak 1969 di perairan utara Laut Jawa, Jawa Barat, Minggu (4/10/2026).
“Ini kan salah satu sumur tertua kita, sejak tahun 1969. Tentu Komisi VI ingin melihat bagaimana efektivitas dan produktivitas dari sumur kita di ONWJ,” ujar Andre.
Menurut Andre, hasil peninjauan menunjukkan bahwa PHE ONWJ mampu menjaga kinerja sumur meskipun aset tersebut telah beroperasi selama puluhan tahun dan mengalami proses peralihan pengelolaan. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mempertahankan produktivitas aset migas yang sudah berusia tua.
“Kami sangat puas dengan kinerja teman-teman PHE ONWJ yang luar biasa. Mereka bisa bekerja keras memastikan sumur ini, meskipun sudah lama dikelola, tetap mempertahankan produktivitasnya,” katanya.
Politisi Fraksi Partai Gerindra tersebut menilai keberhasilan mempertahankan produktivitas sumur tua menjadi salah satu indikator kapasitas Pertamina dalam mengelola aset minyak dan gas bumi secara optimal. Karena itu, Komisi VI DPR RI memberikan apresiasi sekaligus menyatakan dukungan terhadap upaya menjaga keberlanjutan pengelolaan aset tersebut.
“Ini perlu kita apresiasi dan kami memberikan dukungan penuh. Apa yang diperlukan dari teman-teman PHE ONWJ, kami di Komisi VI DPR RI siap memberikan dukungan penuh,” lanjutnya.
Selain pengelolaan sumur tua, Andre turut menyoroti tantangan investasi dalam kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi. Menurutnya, kegiatan eksplorasi memiliki tingkat risiko yang perlu diperhitungkan karena tidak seluruh sumur yang dibor akan menghasilkan produksi sesuai dengan target.
Ia mencontohkan, berdasarkan penjelasan Pertamina, dari 10 sumur yang dilakukan eksplorasi, hanya dua sumur yang menghasilkan produksi. Namun, hasil produksi dari dua sumur tersebut tetap mampu menutup keseluruhan biaya eksplorasi yang dikeluarkan.
“Pertamina tentu akan sangat berhati-hati dalam setiap investasi dan memastikan setiap dana yang dikeluarkan memberikan hasil yang optimal.” imbuhnya.
Andre menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa investasi di sektor hulu migas membutuhkan perencanaan dan perhitungan yang matang. Pertamina juga dituntut untuk menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menentukan prioritas investasi agar setiap pembiayaan yang dikeluarkan dapat menghasilkan manfaat dan mendukung keberlanjutan produksi migas nasional.





