“Indonesia, seperti yang Anda ketahui, adalah negara yang terbuka terhadap dunia. Secara geografis dan historis, Indonesia merupakan ekonomi terbuka. Kami bergantung pada perdagangan dan kemitraan ekonomi yang erat. Karena itu, kebijakan luar negeri kami selalu berprinsip non-blok,” ujar Prabowo.
Ia menjelaskan bahwa prinsip tersebut menjadi landasan Indonesia dalam menjaga hubungan baik dengan berbagai negara, termasuk Jepang yang selama ini menjadi salah satu mitra ekonomi penting Indonesia.
“Filosofi kami adalah: seribu teman masih terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak,” lanjutnya.
Menurutnya, pendekatan tersebut menempatkan Indonesia pada posisi yang stabil di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks dan menjadi salah satu keunggulan Indonesia dalam menjaga stabilitas kawasan dan hubungan internasional.
“Indonesia berada dalam posisi yang nyaman karena kami tidak memiliki musuh,” tegasnya.
Lebih lanjut, Presiden Prabowo menegaskan bahwa pemerintah Indonesia terus melakukan reformasi untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif, memperkuat tata kelola pemerintahan, menegakkan supremasi hukum, serta mendorong transformasi ekonomi melalui industrialisasi dan peningkatan nilai tambah sumber daya alam. Pemerintah juga mendorong pengembangan energi terbarukan, kendaraan listrik, sektor manufaktur, serta ekonomi digital yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan bersama mitra internasional, termasuk Jepang.
Melalui berbagai langkah tersebut, Presiden Prabowo berharap kemitraan ekonomi Indonesia dan Jepang dapat semakin kuat dan memberikan manfaat bagi kedua negara, sekaligus mengundang para pengusaha Jepang untuk berpartisipasi dalam berbagai peluang investasi di Indonesia.
“Kami tidak hanya menawarkan peluang, tetapi juga kemitraan nyata,” pungkasnya.