INDRAMAYU, FraksiGerindra.id — Kapoksi Gerindra Komisi XII DPR RI Rokhmat Ardiyan mendorong optimalisasi konektivitas jaringan gas dari Semarang hingga Indramayu untuk memperkuat kebutuhan energi kawasan industri di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Jawa.
Menurutnya, pembangunan jaringan gas tidak hanya perlu dipastikan berjalan sesuai mekanisme, tetapi juga harus mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi industri, daerah, dan masyarakat.
Rokhmat mengatakan, pengawasan terhadap pembangunan dan pemanfaatan jaringan gas menjadi bagian dari tugas Komisi XII DPR RI untuk memastikan infrastruktur yang telah dibangun dapat dimanfaatkan secara maksimal bagi kepentingan industri nasional.
“Komisi XII datang ke sini dalam tugas-tugasnya melakukan pengawasan apakah jaringan gas ini sudah sesuai dengan mekanisme yang ada dan apa dampak manfaatnya buat industri-industri di dalam negeri, khususnya di daerah Pantura,” kata Rokhmat saat Kunjungan Spesifik Komisi XII DPR RI di Indramayu, Jawa Barat, Kamis (17/9/2026).
Ia menjelaskan, jaringan gas sistem 2 telah dibangun dari Semarang hingga Batang sepanjang sekitar 60 kilometer. Pembangunan tersebut kemudian dilanjutkan melalui jaringan Semarang hingga Indramayu sepanjang sekitar 242 kilometer.
Menurut Rokhmat, pembangunan jaringan tersebut menggunakan anggaran negara sekitar Rp2,7 triliun. Karena itu, pemanfaatannya perlu dioptimalkan agar investasi negara tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi yang luas.
Politisi Fraksi Partai Gerindra itu menilai konektivitas jaringan gas dapat menjadi salah satu infrastruktur penting dalam menopang aktivitas industri di kawasan Pantura, termasuk di wilayah Cirebon, Tegal, Batang, hingga Semarang.
“Konektivitas jaringan gas ini harus bisa meningkatkan pendapatan negara, bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi, bisa menciptakan lapangan pekerjaan serta meningkatkan pendapatan daerah-daerah,” ujarnya.
Menurut Rokhmat, keberadaan jaringan gas yang terhubung antardaerah dapat meningkatkan kepastian pasokan energi bagi pelaku industri. Dukungan energi yang memadai juga diharapkan dapat memperkuat daya saing kawasan industri dan mendorong munculnya aktivitas ekonomi baru di sepanjang jalur tersebut.
Namun demikian, ia menekankan bahwa pembangunan infrastruktur jaringan gas perlu diimbangi dengan kepastian pasokan. Tanpa ketersediaan sumber gas yang memadai, jaringan yang telah dibangun berpotensi tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.
Rokhmat menyebut sejumlah wilayah memiliki potensi sumber dan cadangan gas yang dapat mendukung pemanfaatan jaringan tersebut, antara lain Madura, Jawa Timur, dan Sumatera Selatan.
Menurutnya, penguatan konektivitas antara sumber gas dan kawasan industri menjadi penting agar infrastruktur yang telah dibangun dapat benar-benar mendukung kebutuhan energi nasional.
Selain memperkuat sektor industri, pemanfaatan jaringan gas secara optimal diharapkan dapat memberikan efek berganda terhadap perekonomian. Manfaat tersebut antara lain berupa peningkatan penerimaan negara dan daerah, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan aktivitas ekonomi di wilayah yang dilalui jaringan gas.
Rokhmat berharap pembangunan dan konektivitas jaringan gas Semarang–Indramayu dapat menjadi salah satu penopang bagi pengembangan industri nasional, terutama di kawasan Pantura yang memiliki konsentrasi aktivitas industri cukup besar.
“Insyaallah ini akan menjadi masa depan industri kita akan lebih baik,” harap Rokhmat.





