Berita Parlemen

MBG Model Prasmanan Diuji di Malang, Ma’aruf Mubarok Serap Masukan Siswa

WhatsApp Image 2026 10 16 at 13.14.26

MALANG, FraksiGerindra.id — Badan Gizi Nasional (BGN) menyiapkan uji coba atau pilot project program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan model prasmanan di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Model penyajian tersebut mendapat respons positif dari sejumlah siswa yang menjadi penerima manfaat karena dinilai membuat makanan lebih hangat, segar, dan memungkinkan siswa mengambil makanan sesuai kebutuhan.

Salah satu lokasi yang menjadi pilot project MBG model prasmanan adalah SMP Negeri 1 Kepanjen. Dalam pelaksanaan uji coba tersebut, siswa dapat mengambil sendiri makanan yang telah disediakan sesuai porsi dan jenis lauk yang mereka sukai.

Salah seorang siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kepanjen, Hana, mengatakan dirinya lebih menyukai penyajian MBG dengan sistem prasmanan. Menurutnya, makanan yang disajikan terasa lebih hangat dan segar, sementara siswa dapat memilih makanan sesuai selera dan mengambil secukupnya.

“Lebih enak model prasmanan, karena lauknya lebih hangat. Lebih fresh dan segar. Kami juga bisa ambil secukupnya. Menurut lauk yang tidak kita suka, kita gak ambil. Jadi lebih praktis,” kata Hana, Jumat (16/10/2026).

Uji coba tersebut turut dipantau Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra H. Ma’ruf Mubarok atau yang akrab disapa Gus Mamak, Wakil Ketua Komisi B DPRD Jawa Timur Chusni Mubarok, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Malang Alayk Mubarok, serta sejumlah anggota DPRD dari Fraksi Partai Gerindra. Kapolres Malang AKBP Rulian Syauri dan pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten Malang juga hadir untuk memantau pelaksanaan pilot project tersebut.

Gus Mamak mengatakan hasil sementara pelaksanaan uji coba menunjukkan respons positif dari para siswa. Ia menyebut siswa menilai makanan yang disajikan dengan model prasmanan lebih hangat dan segar.

“Anak anak di SMPN 1 Kepanjen lebih suka MBG model prasmanan. Katanya enak sekali. Makanan lebih hangat dan fresh,” kata Gus Mamak.

Menurutnya, pihaknya juga mencatat berbagai masukan dari siswa sebagai penerima manfaat, terutama terkait menu makanan. Para siswa berharap menu yang dinilai enak dapat dipertahankan dalam pelaksanaan program MBG selanjutnya.

“Anak anak minta agar menunya enak enak dan dipertahankan. Hal itu menjadi catatan kami. Karena program ini memang betul betul luar biasa,” tutur Gus Mamak.

Model Prasmanan Dinilai Menjaga Suhu Makanan

Sementara itu, Chusni Mubarok menjelaskan bahwa SMP Negeri 1 Kepanjen merupakan salah satu dari 61 titik di Indonesia yang menjadi lokasi uji coba MBG dengan model prasmanan. Menurutnya, pelaksanaan uji coba menunjukkan sejumlah kelebihan, terutama dari sisi kesegaran dan suhu makanan ketika diterima siswa.

“Ini hari terakhir kita uji coba MBG model prasmanan. Hasil evaluasi kami, banyak siswa lebih suka karena makanan lebih fresh. Makanan lebih enak. Karena dari dapur rantai panas makanan dipertahankan hingga menuju meja prasmanan. Sehingga suhunya tetap terjaga. Makanan suhunya dipertahankan hingga di 60 derajat,” ujar pria yang akrab disapa Kaji Barok ini.

Chusni mengatakan berbagai hasil evaluasi, termasuk kelebihan dan kekurangan model prasmanan, akan disampaikan kepada BGN sebagai bahan pertimbangan dalam pengembangan program. Jika model tersebut akan diterapkan secara permanen, menurutnya, masih terdapat sejumlah aspek yang perlu diperbaiki.

Salah satunya berkaitan dengan pengaturan waktu makan. Selain itu, Chusni mengusulkan agar program MBG dapat diintegrasikan dengan pembelajaran di sekolah karena menurutnya program tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga dapat menjadi sarana pendidikan mengenai pola hidup sehat dan kebersamaan.

“Kalau kita ingin di permanenkan model prasmanan, tentunya ada beberapa hal yang harus diperbaiki. Misalnya tentang waktu makannya. Atau kami dari Malang ini selalu mengusulkan agar program MBG ini masuk dalam kurikulum. Karena di program MBG tidak hanya intervensi gizi saja, tapi disini ada pendudukan tentang hidup sehat, pendidikan tentang kebersamaan. Dimulai dengan berdoa sebelum makan bersama dilakukan,” tegasnya.

Siswa Dinilai Lebih Mampu Mengatur Porsi

Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Malang Nurul Sri Utami mengatakan model prasmanan juga berpotensi mengurangi pemborosan makanan. Siswa dapat menentukan sendiri jumlah makanan yang ingin diambil berdasarkan kebutuhan dan selera masing-masing.

“Evaluasi dari kami anak anak ini ternyata suka dengan model MBG prasmanan. Hampir semuanya habis, tidak ada yang tersisa karena mereka bisa memilih sendiri sesuai porsi dan kesukaan mereka,” ujar Nurul.

Ia menambahkan, kondisi makanan yang disajikan juga dinilai lebih segar dan hangat. Selain makanan utama, susu dan buah yang diberikan kepada siswa juga mendapat respons positif.

“Anak anak suka, mereka ambil secukupnya. Kondisi makanan juga hangat dan fresh. Mereka lebih suka. Kalau biasanya kan gak suka dibuang, kalau prasmanan kalau gak suka mereka kan gak ngambil, jadi tidak sampai terbuang,” tegasnya.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Malang Alayk Mubarok menilai keterlibatan siswa dalam mengambil makanan secara mandiri menjadi salah satu aspek positif dari model prasmanan. Menurutnya, mekanisme tersebut membuat siswa lebih tertarik sekaligus memberikan kesempatan kepada mereka untuk menentukan makanan sesuai kebutuhan.

“Anak anak lebih suka prasmanan ya, karwna lebih fresh dan hangat. Itu yang anak anak minati. Hanya yang perlu dievaluasi mungkin menu menunya harus enak. Variasi menu dan inovasi menu harus terus dilakukan. Karena anak anak juga kadang ada yang alergi makanan tertentu. Serta kadar gizi harus terus diperhatikan,” pungkas Alayk.

Show Comments (0)
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *