JAKARTA, Fraksigerindra.id-Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Panglima Jilah di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (28/06/2026). Pertemuan tersebut membahas upaya mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), termasuk dukungan pemerintah berupa tambahan personel serta sarana pendukung dari udara.
“Kita membahas tentang karhutla. Tadi beliau membantu kita lewat personil untuk segera. Dan ini sudah dimulai, sudah sekitar satu minggu,” ujar Panglima Jilah dalam keterangannya kepada awak media seusai pertemuan.
Panglima Jilah mengungkapkan, perhatian Presiden Prabowo terhadap Kalimantan Barat tidak terbatas pada persoalan karhutla. Pemerintah juga disebut memberikan dukungan terhadap sejumlah kebutuhan masyarakat, mulai dari pembangunan rumah adat hingga sektor pendidikan, kesehatan, infrastruktur, serta dukungan TNI-Polri.
“Presiden banyak membantu kita, terutama di Kalimantan Barat, itu rumah adat, sekolah, beasiswa, jalan, infrastruktur, rumah sakit, beasiswa, dan TNI-Polri,” katanya.
Selain membahas penanganan karhutla, Panglima Jilah turut menyampaikan pandangannya mengenai persoalan peladang masyarakat Dayak yang kerap dikaitkan dengan kebakaran hutan dan lahan. Ia menjelaskan bahwa kegiatan berladang masyarakat memiliki karakteristik berbeda dengan aktivitas perkebunan, terutama dalam hal lokasi pengelolaan lahan.
“Jadi ladang itu dengan perkebunan itu kadang-kadang bersamaan waktunya. Akhirnya peladang yang disalahkan. Tetapi sebenarnya orang berladang tidak di lahan gambut. Orang berladang itu di lahan mineral,” katanya.
Menurut Panglima Jilah, masyarakat adat mempunyai posisi strategis dalam mencegah sekaligus mengawasi potensi terjadinya karhutla. Pengawasan dilakukan secara langsung oleh masyarakat di wilayah tempat mereka melakukan aktivitas perladangan.
“Jadi kalau kita membakar, di mana lahan ladang kita dibakar, disitulah kita yang akan monitoringnya,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa praktik berladang merupakan bagian dari tradisi masyarakat Dayak yang telah berlangsung secara turun-temurun sejak jauh sebelum perkebunan berkembang di Kalimantan. Kedekatan masyarakat Dayak dengan alam, menurutnya, turut membentuk kesadaran untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Upaya pencegahan karhutla juga dilakukan melalui sosialisasi yang melibatkan tokoh-tokoh adat. Edukasi tersebut bertujuan mendorong masyarakat agar memahami tata cara pembakaran lahan dan tidak melakukannya secara sembarangan.
“Masyarakat adat bersosialisasi lewat tokoh-tokoh adat agar tidak sembarangan membakar hutan karena masyarakat adat itu identik, dekat dengan alam. Tentunya tidak ada alam, tidak ada masyarakat adat. Kita menjaga,” ujar Panglima Jilah.
Pertemuan antara Presiden Prabowo dan Panglima Jilah menunjukkan pentingnya sinergi antara pemerintah dengan masyarakat adat dalam menghadapi persoalan karhutla di Kalimantan. Penanganan kebakaran hutan dan lahan dinilai membutuhkan lebih dari sekadar pengerahan personel dan teknologi, tetapi juga partisipasi masyarakat setempat yang memiliki pengetahuan mengenai kondisi serta karakter wilayahnya.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat langkah pencegahan dan penanganan karhutla sekaligus memastikan masyarakat adat tetap menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan di Kalimantan.





