BANJARBARU, FraksiGerindra.id — Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi Partai Gerindra sekaligus Ketua DPD Gerindra Kalimantan Selatan, Hj. Mariana Abidin, S.AB., M.M., turun langsung menemui masyarakat yang terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan. Dalam kegiatan tersebut, Mariana membagikan masker kepada masyarakat dan pengguna jalan sebagai upaya mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap.
Kegiatan menyasar sejumlah kawasan yang terdampak kabut asap, termasuk sekitar Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kota Banjarbaru, hingga Desa Gunung Raja, Kabupaten Tanah Laut. Dari pantauan di lapangan, kabut asap masih menyelimuti sejumlah ruas jalan yang menjadi jalur mobilitas masyarakat.
Mariana juga berdialog langsung dengan warga dan perangkat setempat untuk mengetahui kondisi serta kebutuhan masyarakat. Di antaranya dengan Ketua RT 01 Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Salasiah, serta Kepala Desa Gunung Raja, Samsiar.

Menurut Mariana, persoalan yang dihadapi masyarakat tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan masker. Paparan kabut asap yang terjadi secara berkepanjangan turut menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan warga, terutama risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Karena itu, ia menilai pelayanan kesehatan, ketersediaan obat-obatan, serta langkah pencegahan perlu diperkuat di daerah-daerah yang terdampak cukup berat.

“Selain cek kesehatan dan obat-obatan, masyarakat juga meminta mesin pemadam dan tangki air. Ini sangat urgen di tengah musim kemarau,” ujar Mariana.
Mariana sebelumnya telah menyalurkan sekitar 1.000 masker kepada masyarakat dan pengguna jalan di kawasan perbatasan Banjarbaru dan Tanah Laut. Pembagian masker dilakukan untuk membantu melindungi masyarakat yang harus tetap beraktivitas di tengah kondisi udara yang terdampak asap karhutla.
Legislator asal Kalimantan Selatan itu menilai kebutuhan tangki air dan mesin pemadam juga perlu mendapatkan perhatian. Selain dibutuhkan masyarakat untuk menghadapi musim kemarau, ketersediaan air dan peralatan pemadaman menjadi penting untuk mendukung penanganan apabila titik api kembali muncul atau meluas.
Mariana mengingatkan bahwa kondisi di lapangan membutuhkan penanganan yang cepat dan kolaboratif. Petugas penanggulangan bencana, aparat keamanan, relawan, pemerintah daerah, hingga masyarakat perlu terus memperkuat koordinasi dalam melakukan pemadaman maupun mengantisipasi dampak kabut asap.
“Petugas BPBD, TNI, Polri, dan relawan sudah berjibaku siang-malam. Bahkan, beberapa hari terakhir api mulai mendekati permukiman penduduk,” ujar Mariana.
Menurutnya, penanganan karhutla tidak boleh hanya berorientasi pada pemadaman api. Perlindungan kesehatan masyarakat yang terpapar kabut asap juga harus menjadi bagian penting dalam penanganan, khususnya bagi anak-anak, lanjut usia, serta kelompok rentan lainnya.
Mariana berharap pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan dapat memastikan kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak terpenuhi, mulai dari masker, pelayanan dan pemeriksaan kesehatan, obat-obatan, hingga dukungan sarana penanggulangan kebakaran.
Ia menegaskan, kehadiran langsung di tengah masyarakat diperlukan untuk memastikan kebijakan dan bantuan yang diberikan sesuai dengan kondisi serta kebutuhan riil di lapangan.
“Kita harus hadir dan melihat langsung apa yang dibutuhkan masyarakat. Jangan sampai dampak karhutla terhadap kesehatan semakin luas. Pencegahan, pelayanan kesehatan, dan penanganan kebakaran harus berjalan bersama,” kata Mariana.
Mariana berharap sinergi pemerintah, aparat, petugas kebencanaan, tenaga kesehatan, relawan, serta masyarakat dapat mempercepat pengendalian karhutla sekaligus menekan dampak kabut asap terhadap kesehatan dan aktivitas warga di Kalimantan Selatan.





