Menurut Prabowo, kebijakan tersebut mungkin tidak dirasakan urgensinya oleh kalangan berpenghasilan tinggi maupun berpendidikan mapan. Namun, bagi mayoritas masyarakat yang masih menghadapi keterbatasan ekonomi, program tersebut dinilai sangat dibutuhkan sebagai bentuk nyata kehadiran negara dalam menjamin kebutuhan dasar.
“Makan bergizi gratis mungkin tidak penting untuk orang-orang yang cukup berada, mungkin tidak penting bagi mereka yang di atas. Tapi di seluruh dunia yang saya pelajari, makan bergizi gratis adalah sangat-sangat diperlukan oleh mayoritas rakyat,” ujar Prabowo.
Ia menyampaikan pernyataan tersebut sebagai respons terhadap kritik yang muncul saat program MBG pertama kali diluncurkan. Saat itu, menurutnya, sebagian kalangan menilai program tersebut sebagai pemborosan anggaran negara.
Kendati demikian, Prabowo menyatakan keyakinannya bahwa kebijakan tersebut berada pada jalur yang tepat. Ia menilai persoalan kekurangan gizi masih menjadi tantangan serius yang berdampak pada tumbuh kembang anak dan berpotensi memperparah lingkaran kemiskinan apabila tidak segera ditangani.
“Mungkin (kritik tersebut) sebagai ungkapan dendam dan dengki, mungkin adalah biasa. Tapi sesuatu yang menyerang hal yang sangat diperlukan oleh orang-orang yang belum kuat ekonominya, sungguh-sungguh menyedihkan bagi saya,” ujar Prabowo.
“Tapi, saya yakin waktu itu saya berada di jalan yang benar. Saya yakin bahwa tujuan kita benar dan baik,” imbuhnya.
Prabowo menambahkan bahwa program MBG dirancang berdasarkan pembelajaran dari praktik di berbagai negara. Ia menyebut banyak negara maju dan demokratis telah lebih dahulu menerapkan program makan bergizi gratis sebagai bagian dari kebijakan perlindungan sosial dan pembangunan sumber daya manusia.
“Sudah puluhan negara lain melaksanakan, puluhan negara lain. Dan negara-negara yang maju, negara-negara yang demokratis, pasti punya program makan bergizi gratis untuk rakyatnya,” tutupnya.